VIVAnews – Permintaan sektor properti diperkirakan meningkat pada 2010. Potensi kenaikan permintaan properti itu di antaranya didukung tingkat suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) yang rendah.

“Jadi, saatnya masuk untuk berinvestasi,” kata Direktur PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu 18 November 2009.

Budi menjelaskan, nilai tukar rupiah yang juga berpotensi menguat terhadap dolar AS menyebabkan target sejumlah perusahaan tahun ini tercapai. “Pada 2010 likuiditas akan meningkat, sehingga trennya positif,” ujar dia.

Kelebihan likuiditas tersebut, dia melanjutkan, juga dapat menyebabkan suku bunga rendah. “Hal ini menstimulasi pengeluaran domestik,” kata Budi.

Namun, Direktur PT Mandiri Manajemen Investasi Andreas Muljadi mengingatkan, tingkat inflasi bisa mencapai 8-9 persen tahun depan.

Penyebabnya, menurut Andreas, jalur distribusi belum memadai.

“Akibatnya, transportasi menjadi mahal dan pelabuhan yang masih sedikit, sehingga menghambat kelancaran arus barang,” ujar dia.

Suku bunga yang mencapai 6,5-7 persen, Andreas melanjutkan, sepintas ¬†memang rendah. “Tapi untuk regional, ini masih tinggi,” kata dia.

Kondisi tersebut akan berpengaruh pada industri komoditas, bahan mentah, dan transportasi. Dia juga sependapat, sektor properti akan mengalami peningkatan permintaan.

arinto.wibowo@vivanews.com

 

VIVAnews