Tanda pemulihan ekonomi nanti akan dibarengi percepatan sektor properti kuartal II-2009.

Senin, 25 Mei 2009, 14:07 WIB

VIVAnews – Industri properti menengah ke atas mendominasi dunia properti periode 2008 dan 2009. Krisis global yang terjadi hanyalah goncangan pasar (market shock).

Menurut Pengamat Indonesia Property Watch Ali Tranghanda, kondisi pasar properti selama triwulan I-2009 tetap menunjukkan peningkatan.

Hal itu, kata dia, terbaca dari indeks harga properti di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) yang naik tipis 0,42 persen. Perumahan Menengah Bawah (MB) meningkat 0,58 persen, Perumahan Menengah (MM) 0,37 persen, dan Perumahan Menengah Atas (MA) naik 0,3 persen.

“Tahun 2008 sampai 2009, pasar properti banyak didominasi perumahan menengah ke atas,” ujarnya pada Media Gathering di Jakarta International Club Menara BNI 46 Jakarta, Senin 25 Mei 2009.

Selama 2008, menurut Ali, transaksi properti mengalami penurunan 8,7 persen. “Namun, perumahan dan apartemen mnenengah atas naik masing-masing 30 dan 18,7 persen,” katanya.

Sedangkan penjualan rumah menengah bawah dan menengah turun 4,35 persen dan 10,57. Tapi penjualan rumah menengah atas menunjukkan kenaikan 2,29 persen, sehingga krisis global hanya sebagai goncangan pasar.

Ali menuturkan, tanda-tanda pemulihan ekonomi nanti akan dibarengi percepatan sektor properti pada kuartal II-2009. Sumber pergerakan tersebut, dimulai pada sektor perumahan di semua segmen, apartemen menengah, dan hotel.

Sementara itu, diperkirakan harga properti bakal meningkat di wilayah-wilayah investasi yang sedang berkembang. Beberapa wilayah pertumbuhan yang mengalami perkembangan pesat di antaranya kawasan Sawangan-Pamulang dengan pertumbuhan delapan hingga 10 persen. Serta daerah Serpong-Tangerang, Puri Indah Kelapa Gading, dan Pondok Indah.

“Perkembangan perumahan bergerak ke utara dengan aksesibilitas tinggi,” kata Ali.

 

VIVAnews